Thursday, March 29, 2012

Contoh Analisis Perjanjian International

                   ANALISIS PERJANJIAN INTERNASIONAL

1.     Subyek
Indonesia-jepang
2.     Istilah yang digunakan
Traktat (treaty) karena perjanjian ini adalah perjanjian di bidang ekonomi.
Traktat (treaty) artinya perjanjian paling formal merupakan persetujuan dua Negara atau lebih mencakup perjanjian bidang politik dan ekonomi
3.     Bentuk perjanjian
(Tertulis dan Bilateral karena perjanjian ini adalah antara dua Negara yaitu antara Indonesia dan Jepang untuk mengatur kepentingan kedua belah pihak)
4.     Sifat
Treaty contract karena perjanjian ini hanya menimbulkan hak dan kewajiban bagi Indonesia dan Jepang
Treaty contract artinya perjanjian yang menimbulkan hak dan kewajiban hanya bagi Negara yang mengadakan perjanjian saja
5.     Kapan mulai berlaku dan berakhir
Pada tanggal 20 Agustus 2007 telah ditandatangani kesepakatan kemitraan ekonomi Indonesia-Jepang (Indonesia Japan Economic Partnership Agreement / IJEPA) oleh kedua negara, yaitu antara Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, yang datang secara khusus ke Indonesia, dengan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono
                                                                            

INDONESIA-JAPAN ECONOMIC PARTNERSHIP AGREEMENT
(IJ-EPA)
PERJANJIAN KEMITRAAN EKONOMI INDONESIA-JEPANG
LATAR BELAKANG

Pada bulan Nopember 2004 disela-sela pertemuan APEC, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dan mitranya Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe sepakat untuk membahas kemungkinan pembentukan Economic Partnership Agreement (EPA). Hasil pembicaraan tersebut ditindaklanjuti antara Menteri Perdagangan kedua pihak pada bulan Desember 2004.

Sebagai langkah awal adalah diadakannya Joint Study, melalui Joint Study Group Meeting (JSG) sebanyak 3 kali pertemuan informal (Desember 2004-Juli 2005). Hasil JSG merekomendasi manfaat perlunya EPA antara kedua negara berupa Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJ-EPA), yang kemudian diikuti dengan seri perundingan/negosiasi sebanyak 6 (enam) putaran sejak Juli 2005 sampai dengan November 2006.

Pada akhir negosiasi tanggal 24 Nopember 2006 di Tokyo, kedua Chief Negotiator, Ambassador Soemadi DM Brotodiningrat dan Mr. Mitoji YABUNAKA menandatangani Record of Discussion yang mencakup persetujuan prinsip atas bagian-bagian utama dari 13 kelompok negosiasi dan menyepakati untuk melakukan finalisasi dari perjanjian sesegara mungkin.

Pada tanggal 21-22 Juni 2007, telah dilakukan negosiasi akhir dalam kerangka wrapup meeting. Hasil negosiasi tersebut berupa Record of Discussions yang kemudian disepakati oleh kedua Chief Negotiator, yaitu Ambassador Soemadi DM Brotodiningrat dan Mr. Masaharu KOHNO, Wakil Menteri Luar Negeri. Hasil tersebut sebagai landasan bagi langkah selanjutnya yang akan menyelesaikan pending issue dan merapikan draft teks dari sisi bahasa dan hukum.

KEPENTINGAN INDONESIA

Beberapa alasan yang mendasari Indonesia untuk menjalin kerjasama melalui EPA dengan Jepang, diantaranya adalah:
  • Jepang merupakan mitra dagang dan investor utama buat Indonesia, dan Indonesia adalah penerima terbesar ODA Jepang;
  •  Akses Pasar untuk produk Indonesia ke pasar ekspor terbesar mewakili 20% dari ekspor yang ada, sedangkan Jepang merupakan sumber impor terbesar keduabagi Indonesia (13%);
  • Peluang untuk mengirim tenaga kerja semi terampil;
  • EPA memberi kepastian akses pasar yang lebih prefensial dan luas dibandingkan dengan program seperti Generalized System of Preferences (GSP), dan menempatkan Indonesia sejajar dengan negara lain yang telah memiliki perjanjian dengan Jepang seperti Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand di ASEAN; sedangkan Brunei dan Vietnam menyusul.

TIGA PILAR EPA

Tidak seperti perjanjian perdagangan bebas sebelumnya, IJ-EPA merupakan kerjasama perdagangan yang mencakup tidak hanya LIBERALISASI, namun juga sektor lainnya, anatara lain jasa, investasi, energi dan sebagainya, yang tercakup dalam TIGA PILAR utama yaitu:
a.Fasilitasi Perdagangan dan investasi :
  • Upaya bersama untuk memperbaiki iklim investasi dan meningkatkan tingkat kepercayaan bagi investor Jepang;
  • Kerjasama di bidang prosedur kepabeanan, pelabuhan dan jasa-jasa perdagangan, HKI, standar;
b.Liberalisasi: menghapuskan/mengurangi hambatan perdagangan dan investasi (bea masuk, memberi kepastian hukum);
c.Kerjasama kesepakatan untuk kerjasama dalam meningkatkan kapasitas Indonesia sehingga lebih mampu bersaing dan memanfaatkan secara optimal peluang pasar dari EPA.

IJ-EPA merupakan kerjasama yang komprehensif dan lebih memberikan peluang daripada kesepakatan dalam WTO, sehingga sering disebut dengan WTO PLUS. Untuk mengakomodasi ke-komprehensifan dan memperlancar jalannya perundingan, maka IJ-EPA mengelompokkan perundingan ke dalam 13 Expert Groups (EG), yaitu:

1. Trade in Goods
2. Customs Procedures
3. Rules of Origin
4. Investment
5. Improvement of Business Environment & Promotion of Business Confidence
6. Trade in Services
7. Movement of Natural Persons
8. Energy and Mineral Resources
9. Intellectual Property Rights (IPR)
10. Competition Policy
11. Technical Cooperation and Capacity Building
12. General Provisions
13. Government Procurement

GARIS BESAR KEUNTUNGAN EPA BAGI INDONESIA

Dengan adanya perjanjian kerjasama IJ-EPA, Indonesia akan memperoleh beberapa keuntungan dan manfaat, antara lain:
a. Kemitraan dalam EPA menggambarkan kepentingan dari kedua Negara yang mengikatkan diri;
b. Manfaat dari EPA
  • di bidang perdagangan: barang dan jasa;
  • di bidang investasi dan bisnis;
  • peningkatan kapasitas bagi Indonesia
c. Elemen Utama EPA yang penting bagi Indonesia:
  • Peningkatan akses pasar produk ekspor Indonesia ke Jepang;
  • Kerjasama dalam peningkatan kapasitas untuk memperbaiki daya saing Indonesia sehingga:
                                i.            Keuntungan dari EPA optimal bagi Indonesia;
                              ii.            Keuntungan dapat diraih oleh sebanyak mungkin lapisan masyarakat, termasuk UKM;
  • EPA dengan Jepang merupakan perjanjian komprehensif yang pertama;
  • EPA konsisten dan komplementer dengan komitmen dan perjanjian perdagangan lain, yaitu dalam lingkup WTO, lingkup regional: ASEAN ataupun ASEAN + 1, dan dalam forum bilateral;
  • EPA konsisten dengan program reformasi dalam negeri:
·         strategi ofensif untuk meraih pasar untuk produk yang kita dapat bersaing dan meningkatkan investasi;
·         strategi defensif untuk melindungi yang belum siap (yaitu jangka waktu `yang lebih lama atau tidak masuk dalam komitmen);

Selain itu dengan adanya EPA Indonesia memiliki beberapa kepentingan, yaitu:
a. EPA dapat meningkatkan investasi dari Jepang;
b. EPA akan meningkatkan kapasitas daya saing Indonesia secara umum maupun
   di sektor-sektor tertentu, antara lain:
  • Peningkatan kapasitas, khususnya di area standardisasi produk dan pengujian; kebersihan dan standar kesehatan untuk produk makanan dan minuman;
  • Pelatihan ketrampilan dan teknologi di sektor manufaktur yang akan meningkatkan mutu produk Indonesia di pasar domestik dan internasional;
  • Program-program peningkatan kapasitas di bidang energi, industri, pertanian, promosi ekspor dan investasi dan pengembangan UKM;

Sebaliknya, Jepang juga memiliki beberapa kepentingan dengan adanya EPA,
antara lain karena:
  • Indonesia merupakan negara terbesar di ASEAN dan secara ekonomi, politik dan geografi adalah penting dan strategis;
  • Transparansi dan kepastian hukum untuk investasi, termasuk untuk investasi yang sudah ada

MANFAAT SEKTOR BARANG DARI EPA

  • Kesepakatan liberalisasi pasar oleh Jepang mencakup lebih dari 90% barang yang diekspor Ind ke Jepang, termasuk produk industri dan agri-bisnis;
  • Komitmen ini akan memberikan peluang yang setara kepada Indonesia di pasar Jepang dalam menghadapi negara pesaing tertentu yang sudah mengadakan perjanjian EPA dengan Jepang (a.l. Thailand, Filipina, Malaysia, Meksiko);

c. Uraian berikut sebagai gambaran beberapa produk yang memperoleh keuntungan dengan       dibentuknya IJ-EPA, antara lain produk sektor industri yang padat karya:

Produk kayu
  • Penghapusan bea masuk ke pasar Jepang sebagian produk kayu;
  •  Penghapusan eskalasi tarif (semakin tinggi tingkat prosesing, semakin tinggi tarif impor yang dikenakan misalnya bahan baku = 0% tarif, olahan tarif lebih tinggi), contoh: mebel, produk dari kayu yang lain;
o   Hal ini diharapkan meningkatkan industri perkayuan di Indonesia


Produk lainnya
Makanan dan minuman; buah-buahan (antara lain nanas, pisang), teh dan kopi serta produk TPT; dengan adanya EPA dapat memberi peluang peningkatan pangsa pasar ekspor indonesia ke pasar Jepang karena tarif bea masuknya turun atau dihapuskan (misalnya tekstil dan pakaian diturunkan menjadi 0%).

Sektor Jasa
o   Komitmen di bidang jasa tenaga kerja (mode 4- movement of natural persons) yang diperoleh Indonesia dari Jepang akan memberikan peluang untuk pengiriman tenaga kerja terampil seperti juru rawat, pekerja di sektor hotel dan pariwisata, dan pelaut;
o   Penyediaan jasa yang lebih efisien diharapkan akan meningkatkan daya saing produk Indonesia;

Manfaat Investasi dari EPA
Indonesia merupakan salah satu negara tujuan penting bagi investasi Jepang, walaupun peringkatnya sebagai negara tujuan menurun sejak krisis ekonomi.
o   Di bidang manufaktur aliran terbesar adalah ke sektor otomotif/suku cadang,elektrik/elektronik dan sektor kimia serta peralatan kantor;
§  Memperdalam struktur industri dengan investasi industri pendukung (components, parts, mould and dies), di mana supplier Indonesia dapat juga berkembang dengan fasilitasi dari Manufacturing Industry Development Center (MIDEC);
§  Investasi untuk mengembangkan pertanian, perikanan dan kehutanan, di mana kemitraan dan keikutsertaan UKM dapat difasilitasi denganberbagai proyek kerjasama;
§  Investasi di bidang energi, termasuk bio-fuel yang juga akan di fasilitasi melalui proyek kerjasama;
o   Di bidang jasa, aliran terbesar adalah ke sektor keuangan dan asuransi, perdagangan, transportasi dan real estate;
o   EPA akan meningkatkan iklim usaha dan mendorong kepercayaan bisnis melalui perbaikan/kepastian hukum bagi investor;
o   Hasil EPA dan paket kebijakan investasi lain yang sedang dilakukan pemerintah RI diharapkan akan menjadi kerangka hukum baru dan pentingdalam meningkatkan kepercayaan dan memberikan perlakuan lebih baik dan pasti (UU Penanaman Modal, Revisi UU Pajak dan Bea Cukai);
o   Keuntungan EPA diharapkan akan memberikan daya tarik bagi investor asing berinvestasi di Indonesia.

Manfaat Kerjasama di Bidang Peningkatan Kapasitas (Cooperation in Capacity Building)
o   Selain sepakat untuk menghapuskan/mengurangi bea masuk, kedua Negara juga menyepakati kerjasama dalam rangka peningkatan kapasitas produsen penghasil produk industri pertanian, perikanan dan kehutanan;
o   Aspek Kerjasama di bidang akses pasar merupakan hal penting dari EPA, dan inilah alasan mengapa disebut WTO plus:
§  Kerjasama tersebut meliputi: Pembangunan Pusat Industri Manufaktur yang berfokus pada Otomotif, Mould and Dyes, dan Welding, promosi ekspor dan bantuan untuk UKM;

§  Kerjasama untuk menjamin ketersediaan Sumber Perikanan secara berkesinambungan (Sustained Marine Resources) merupakan hal penting dalam kerjasama dan membantu Indonesia memelihara sumber bahari dalam jangka panjang;
§  Agribisnis akan diuntungkan dari beberapa proyek seperti Pengembangan Pusat Makanan dan Minuman dan juga program lain untuk para petani kecil dan nelayan;
o   Jepang akan memperpanjang bantuan teknis di sejumlah sektor lain yang penting (antara lain energi, pelatihan tenaga kerja dan ketrampilan, industry manufaktur, agribisnis, perikanan, promosi ekspor dan UKM);
o   Pemanfaatan kayu (ukuran kecil) untuk industri guna membantu industry sektor kehutanan;
o   Kerjasama ekonomi dan teknis di bidang pelatihan dan penelitian yang akan dibahas lebih lanjut;

PENUTUP

a.       Meskipun EPA Indonesia-Jepang adalah Kemitraan Ekonomi yang diharapkan akan menguntungkan kedua belah pihak secara berimbang, namun EPA ini juga memperhatikan adanya tingkat pembangunan ekonomi yang tidak seimbang antara kedua negara. Hal ini tercermin dalam (i) ruang lingkup (coverage) dari fast-track (Pihak Jepang akan melakukan pembebasan bea masuk bagi sekitar 80% tariff lines atau sekitar 91% value ekspor Indonesia ke Jepang, sementara Indonesia sekitar 35% untuk ekspor Jepang ke Indonesia), dan (ii) Indonesia akan memperoleh bantuan Jepang dalam Kerjasama Peningkatan Kapasitas di berbagai bidang.
b.      EPA merupakan komplementer untuk kerjasama regional lebih luas seperti ASEAN plus, APEC dan WTO Putaran Pembagunan Doha

0 comments:

Post a Comment

 
dan